Oleh: Mujiono Sadikin | Januari 6, 2009

Jamaah Musholla An Nur menghadiri Majelis Ta’lim Selapanan Nurul Ihsan di rumah P Arifin Junaedi

Jamaah Musholla An-Nur pada hari Kamis 5 Muharram 1430 H yang lalu menghadiri acara Majelis Ta’lim Selapanan Nurul Ihsan di rumah Bp. H. Arifin Junaedi. Majlis Ta’lim kali ini terasa istimewa karena dihadiri oleh tokoh penting Negara ini yaitu H. Agung Laksono Ketua DPR RI. Penceramahnya pun bukan main – main. Siapa yang tidak kenal Prof. Said Agil Siradj, salah satu petinggi Nahdathul Ulama ? Maklum sahibul bait yang empunya hajatpun bukan sembarangan orang, selain (mantan) sekretaris NU, beliau juga Ketua Komisi IV DPR RI yang membidangi Pertanian dan Ketahanan Pangan.


Majelis Ta’lim di rumah P Arifin ini sebenarnya kegiatan rutin selapanan (satuan untuk menyebut 36 hari dalam tradisi Jawa). Jadi secara (bahasa gaul ibu-2 muda sekarang) pengajian, ini adalah hal yang biasa tidak ada istimewanya. Namun mungkin karena kehadiran banyak tokoh penting itu – tadinya Bp. Fauzi Bowo juga diberitakan akan hadir -, maka pengajian ini sekali lagi terasa istimewa. Nah mungkin karena keistimewaannya ini lah, jadinya pengajian ini diumumkan di masjid – masjid sekitar saat Shalat Jum’at sebelumnya.
Jadilah banyak orang yang tahu meskipun tidak ada pengumuman maupun undangan resmi.

Termasuk yang hadir tentu saja adalah jamaah dan majlis Ta’lim Musholla Annur. Karena memang musholla dengan rumah P Arifin Junaedi bertetangga dekat meskipun berbeda secara administratif. Musholla dengan tempat pengajian hanya dipisahkan oleh jarak 2 rumah penduduk.

Ringkasan Materi Penceramah

Setelah pembukaan, bembacaan tahlil, sambutan – sambutan, maka masuk acara inti yaitu siraman rohani dan uswatun hasanah dari Prof Said Agil Siradj. Jika disarikan inti dari ceramah P Said Agil Siradj adalah betapa penting kedudukan orang berilmu di mata Allah. Karena menurut Allah, hanya orang yang berilmu lahyang beriman dan beribadah dengan benar. Hanya orang berilmu lah yang akan ditinggikan derajadnya dan memenangkan persaingan dalam segala bidang baik perdagangan/ekonomi, politik, pendidikan, peradaban, kebudayaan, dan bidang apapun di dunia ini tidak dapat kita jaya di dalamnya tanpa berilmu.

Professor Said Agil Siradj, membuka ceramahnya dengan mengutip Al-quran surat 22 Al Hajj:54 seperti di bawah

22_54

dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu, meyakini bahwasanya Al Quran itulah yang hak dari Tuhan-mu lalu mereka beriman dan tunduk hati mereka kepadanya dan sesungguhnya Allah adalah Pemberi Petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus. (Terjemahan DEPAG RI).

Sedangkan Professor menterjemahkan dengan

dan hanya orang-orang yang telah diberi ilmu lah yang meyakini bahwasanya Al Quran itulah yang hak dari Tuhan-mu lalu mereka beriman dan tunduk hati mereka kepadanya dan sesungguhnya Allah adalah Pemberi Petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus.

Kalimat ini diucapkan oleh Nabi Muhammad SAW 15 abad yang lalu. Jika kita hitung mundur 1500 tahun yang lalu maka akan kita dapati fakta – fakta antara lain:

1. Tanah Arab waktu itu hanyalah padang pasir yang gersang, tertutup dari dunia luar.

2. Masyarakat arab sama sekali tidak mengenal budaya berpikir, berilmu apalagi berpenelitian. Mereka adalah pedagang dan mayoritas peternak tradisional nomaden.

3. Jangkan Masyarakat Arab, dunia pun waktu itu diliputi kegelapan dan paganisme. Eropa? Masih belum ada apa – apanya. Hanya ada dua kekaisaran dan kerajaan besar yang dikenal waktu itu yaitu Romawi dan Persia. Romawi menganut agama politeisme, menyembah banyak Dewa. Persia menganut Zoroaster, yang menganggap sang Raja adalah keturunan Tuhan. Keduanya memang besar dan berkuasa, namun tanpa ada landasan ilmu. Dan sama sekali keduanya tidak pernah mampu menjamah tanah arab.

4. Muhammad hanyalah seorang manusia biasa yang kemudian dipilih menjadi Nabi terakhir. Beliau sama sekali bukan orang terpelajar, bahkan buta huruf. Beliau tidak pernah kursus apapun, tidak pernah ikut LSM apapun, namun dari mulutnya keluar penegasan tentang betapa pentingnya ilmu bagi kemanusiaan.

Jadi dengan sedikit fakta yang disebut itu saja, seharusnya nurani dan akal kita tidak bisa mengelak bahwa Nabi Muhammad benar – benar Nabi yang dipilih orang Yang Maha Berilmu, Allah S.W.T. Tidak lah mungkin kalimat itu keluar dari olah pikir beliau sendiri. Maka, benar – benar tertutup mata hati dan pikiran orang yang mengatakan bahwa beliau Nabi palsu yang membuat – buat ayat – ayat Al Qur’an, apalagi menconteknya dari kitab – kitab terdahulu.

Sebagian kita salah kaprah dalam memaknai dan memahami agama Islam. Kita kira bahwa dengan Al-quran dan Hadis kita bisa menjalankan ibadah baik hablum minnallah maupun hablum minnannas. Ternyata – seperti kata Al Quran – kita memerlukan ilmu untuk beribadah. Salah satu contoh adalah cara kita dalam beribadah shalat Fardhlu. Apakah ada dalam alquran yang menuntun bahwa shalat adalah ritual ibadah yang dimulai dengan takbiratul iqram, diteruskan dengan (yang wajib) bacaan fatihah, kemudian ayat – ayat yang kita pilih dari Al qur’an, dikuti ruku’, bangkit dari ruku’ dengan tuma’ninah, sujud, dst…yang merupakan rukun shalat. Hal itu tidak ada dalam Al Quran. Rukun shalat juga tidak ada dalam Hadits. Memang benar Rosullallah memberikan contoh bagaimana shalat yang benar. Namun formulasi rukun shalat ( dan rukun-2 ibadah lain seperti wudhlu) adalah hasil olah pikir dan ilmu dari para ulama – ulama terdahulu dengan tetap berpedoman pada Al-Quran dan Hadis. Dan ilmu para ulama juga merupakan sumber hukum yang diakui dalam islam setelah Al Quran dan Hadits Rosul.

Penguasaan ilmu oleh ummat Islam terdahulu, menjadikan Islam merupakan agama yang paling pesat perkembangannya di dunia. Penguasaan ilmu oleh ulama – ulama Islam telah menjadikan dasar bagi pengetahuan dan teknologi modern, seperti Kimia, Al jabar, ilmu – ilmu falak, ilmu kedokteran, kesenian dan budaya, dan lain – lain. Kita mengenal ilmuwan – ilmuwan seperti Ibnu Sina, Ibun Rusdi, Zaid al Jabir, dst. Dengan gaya guyonan, professor mengatakan paling enak dan sedap menceritkan kisah ummat islam di masa lalu. Yang ada adalah kepintaran, inovasi dan penemuan – penemuan mutakhir, kejayaan, dan kebanggaan. Bandingkan dengan cerita ummat Islam masa kini. Pembagian zakat menjadi malapetaka karena salah urus, ”ulama” yang politikus senayan terjebak kasus korupsi, antara ulama rebutan kursi dst., dst.

Terlalu sempit tulisan ini untuk merangkup semua tauziah Professor Said Agil Siradj yang berdurasi 1.5 jam itu. Ditambah lagi keterbatasan ilmu penulis, maka maklum lah kalau apa yang ditulis di sini hanya sepenggal dari semua materi yang semunya bernas berisi. Namun, inti mengenai pentingnya ilmu mudah-2an dapat kita tangkap dan renungkan bersama untuk bersama – sama menyebarkan syiar Islam sebagai agama rahmat sekalian alam.

Beberapa momen yang sempat direkam dari kegiatan pengajian Majelis Ta’lim seperti pada gambar – gambar di bawah.

Sambutan dari sahibul bait

Sambutan dari sahibul bait

Ketua DPR RI memberikan sambutan

Ketua DPR RI memberikan sambutan

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: